Pernyataan yang terdengar meyakinkan belum tentu memiliki sifat yang sama. Saat membaca berita, media sosial, atau percakapan sehari-hari, kita bisa menemukan informasi yang dapat dibuktikan sekaligus pendapat yang berisi penilaian seseorang.
Lalu, apa perbedaan fakta dan opini? Kuncinya ada pada dua hal: apakah klaim tersebut dapat diverifikasi dan apakah ada unsur pendapat di dalamnya. Cara melihatnya tidak cukup hanya dengan mencari angka atau kata tertentu.
Apa Perbedaan Fakta dan Opini?
Fakta merujuk pada keadaan, kejadian, atau informasi yang benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan melalui bukti atau sumber yang relevan. Sementara itu, opini merupakan pendapat, interpretasi, atau penilaian terhadap suatu hal. Opini dapat didukung oleh fakta, tetapi tetap memiliki unsur penilaian dari orang yang menyampaikannya.
Perbedaannya akan lebih mudah terlihat melalui perbandingan berikut.
| Aspek | Fakta | Opini |
|---|---|---|
| Dasar pernyataan | Keadaan, kejadian, data, atau informasi yang dapat dibuktikan | Pendapat, interpretasi, preferensi, atau penilaian |
| Verifikasi | Kebenarannya dapat diuji melalui bukti atau sumber | Mengandung unsur yang tidak semata-mata ditentukan lewat verifikasi fakta |
| Unsur penilaian | Tidak menjadi inti pernyataan | Menjadi bagian penting dari pernyataan |
| Hubungan dengan bukti | Bukti digunakan untuk memastikan kebenaran klaim | Fakta atau bukti dapat digunakan sebagai dasar pendapat |
| Contoh | “Pertemuan dimulai pukul 09.00” jika jadwal atau kejadian mendukungnya | “Pertemuan pukul 09.00 terlalu pagi” |
Perbedaannya bukan sesederhana “fakta benar, opini salah”. Sebuah opini tidak otomatis keliru. Sebaliknya, klaim yang disajikan sebagai fakta masih perlu diperiksa jika kebenarannya belum diketahui.
Apa yang Dimaksud dengan Fakta?
Fakta mengacu pada keadaan, kejadian, atau informasi yang benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan. Dalam sebuah teks, klaim faktual perlu memiliki dasar yang memungkinkan pembaca melakukan verifikasi, misalnya melalui dokumen, data, catatan kejadian, atau sumber informasi yang relevan.
Ambil contoh kalimat, “Pertemuan dimulai pukul 09.00.” Pernyataan ini dapat dianggap sebagai fakta jika waktunya memang bisa dikonfirmasi melalui jadwal atau catatan kegiatan.
Nada yang tegas bukan penentu. Sebuah klaim tetap perlu diperiksa ketika kebenarannya belum diketahui, meskipun cara penyampaiannya terdengar sangat pasti.
Apa yang Dimaksud dengan Opini?
Opini adalah pendapat, interpretasi, atau penilaian seseorang terhadap suatu hal. Unsur penilaian tersebut yang membuatnya berbeda dari informasi yang semata-mata menjelaskan keadaan atau kejadian yang dapat dibuktikan.
Bandingkan dengan kalimat, “Pertemuan pukul 09.00 terlalu pagi.” Frasa “terlalu pagi” menunjukkan penilaian. Orang lain bisa saja memandang waktu yang sama sebagai waktu yang wajar untuk memulai pertemuan.
Opini pun tidak harus berdiri tanpa dasar. Fakta dapat digunakan untuk mendukung sebuah pendapat, tetapi interpretasi atau penilaian yang dibuat dari fakta tersebut tetap dapat disebut opini.
Ciri-Ciri Fakta dan Opini yang Bisa Dikenali
Ciri fakta dan opini berguna sebagai petunjuk awal ketika membaca sebuah kalimat. Namun, jangan memperlakukannya sebagai rumus yang selalu berlaku tanpa melihat konteks.
Ciri-Ciri Fakta
Pernyataan faktual umumnya memiliki karakter seperti:
- Kebenarannya dapat diperiksa atau diverifikasi.
- Memiliki dasar berupa bukti, data, dokumen, kejadian, atau sumber yang relevan.
- Mengarah pada keadaan atau kejadian yang bisa dicek.
- Tidak bergantung pada preferensi pribadi sebagai inti pernyataannya.
Angka, tanggal, dan lokasi memang sering muncul dalam informasi faktual. Kehadiran unsur tersebut tetap bukan syarat mutlak. Kalimat yang memuat angka pun belum tentu benar jika angkanya tidak memiliki dasar yang dapat diperiksa.
Ciri-Ciri Opini
Pada opini, unsur yang lebih menonjol biasanya berupa:
- pendapat;
- penilaian;
- interpretasi;
- preferensi;
- dugaan atau rekomendasi.
Kata seperti “bagus”, “terlalu mahal”, atau “lebih menarik”, misalnya, dapat menunjukkan adanya penilaian ketika digunakan untuk menyatakan pandangan seseorang.
Opini dapat menggunakan fakta sebagai dasar argumennya. Meski didukung bukti, pernyataan tersebut tetap dapat disebut opini jika di dalamnya masih terdapat interpretasi atau penilaian.
Kata Petunjuk Bukan Bukti Mutlak
Mencari kata tertentu memang praktis, tetapi cara ini mudah menyesatkan jika konteks diabaikan. Kata “menurut” adalah contoh yang cukup jelas.
“Menurut laporan tersebut, kegiatan dimulai pukul 08.00” dapat memperkenalkan klaim faktual yang memiliki sumber. Berbeda dengan “Menurut saya, kegiatan itu dimulai terlalu pagi” yang secara jelas memuat penilaian pribadi.
Kata seperti “mungkin” atau “sebaiknya” juga bisa menjadi petunjuk. Tetap saja, satu kata tidak cukup untuk menentukan sifat seluruh pernyataan.
Contoh Fakta dan Opini dalam Kalimat
Perbedaan fakta dan opini biasanya lebih mudah dipahami lewat contoh. Alih-alih hanya melihat bentuk kalimat, perhatikan bagian mana yang dapat diverifikasi dan bagian mana yang berisi penilaian.
Contoh Kalimat Fakta
Misalnya:
“Pertemuan dimulai pukul 09.00.”
Kalimat tersebut dapat dianggap sebagai fakta jika tersedia jadwal, catatan kegiatan, atau bukti lain yang mengonfirmasi waktunya.
Bukan angka “09.00” yang membuatnya menjadi fakta. Dasar yang dapat diverifikasi itulah yang menentukan.
Contoh Kalimat Opini
Misalnya:
“Pertemuan pukul 09.00 terlalu pagi.”
Bagian yang perlu diperhatikan adalah frasa “terlalu pagi”. Itu merupakan penilaian, dan orang lain bisa saja mempunyai pandangan berbeda terhadap waktu yang sama.
Contoh Kalimat yang Memuat Fakta dan Opini
Fakta dan opini tidak selalu hadir dalam kalimat yang terpisah. Keduanya bisa muncul sekaligus.
Misalnya:
“Film tersebut berdurasi 120 menit dan sangat membosankan.”
Klaim “berdurasi 120 menit” dapat diperiksa melalui informasi durasi film. Sementara itu, “sangat membosankan” merupakan penilaian yang dapat berbeda antara satu penonton dengan penonton lainnya.
Dalam kondisi seperti ini, lebih tepat memecah pernyataan menjadi beberapa bagian daripada memaksa seluruh kalimat masuk ke satu kategori.
Cara Membedakan Fakta dan Opini dalam Informasi Sehari-hari
Menghafal kata-kata penanda saja tidak cukup. Saat menemukan pernyataan yang perlu diperiksa, gunakan alur sederhana berikut.
- Identifikasi klaim utamanya
Cari tahu informasi apa yang sebenarnya sedang disampaikan. Satu kalimat panjang dapat memuat lebih dari satu klaim. - Tanyakan apakah klaim tersebut dapat diperiksa
Lihat apakah kebenarannya bisa diuji melalui kejadian, dokumen, data, atau sumber yang relevan. - Periksa bukti atau sumber pendukung
Ketika sebuah kalimat disajikan sebagai fakta, lihat apakah ada sumber yang mendukung klaim tersebut dan apakah konteksnya sesuai. - Cari unsur pendapat atau penilaian
Perhatikan keberadaan preferensi, interpretasi, rekomendasi, atau evaluasi seperti “bagus”, “buruk”, “terlalu mahal”, dan “lebih nyaman”. - Pisahkan fakta dan opini jika keduanya bercampur
Tidak semua kalimat harus diberi satu label. Bisa saja satu bagian berisi informasi yang dapat diverifikasi, sedangkan bagian lain berupa penilaian.
Alur ini membantu mengklasifikasikan sebuah pernyataan dengan lebih hati-hati. Namun, mengidentifikasi klaim sebagai faktual bukan berarti kebenarannya otomatis terjamin. Bukti dan sumber tetap perlu diperiksa.
Mengapa Fakta dan Opini Perlu Dibedakan Saat Membaca Informasi?
Membedakan fakta dan opini membantu pembaca melihat mana bagian yang dapat diperiksa dan mana yang merupakan interpretasi atau penilaian. Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen juga memasukkan kemampuan menilai gagasan, fakta, atau opini dalam keterampilan memahami teks.
Konteks yang sama relevan ketika membaca berita. Dalam Kode Etik Jurnalistik, Dewan Pers mengatur agar wartawan menguji informasi dan tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi.
Bagi pembaca, pendekatannya cukup jelas. Klaim yang terlihat faktual perlu dilihat sumber dan buktinya, sedangkan pendapat perlu dikenali sebagai penilaian meskipun dibangun dengan dukungan fakta.
Kesimpulan
Jangan menilai fakta dan opini hanya dari gaya bahasa, keberadaan angka, atau satu kata penanda. Mulailah dari klaimnya: apakah dapat diverifikasi, apa bukti atau sumbernya, dan apakah ada penilaian pribadi di dalamnya.
Jika fakta dan opini muncul bersama, pisahkan keduanya. Cara sederhana ini membuat informasi lebih mudah dibaca secara teliti tanpa harus mengandalkan tebakan dari bentuk kalimat saja.
FAQ
Apakah opini selalu salah?
Tidak. Opini merupakan pendapat atau penilaian yang dapat didukung fakta, tetapi tetap memiliki unsur interpretasi dari orang yang menyampaikannya.
Apakah kalimat yang mengandung angka pasti merupakan fakta?
Tidak. Angka tidak otomatis membuktikan kebenaran sebuah klaim karena informasinya tetap perlu dapat diverifikasi.
Apakah pendapat ahli termasuk fakta atau opini?
Tergantung isi pernyataannya. Ahli dapat menyampaikan fakta, tetapi pendapat atau interpretasinya tetap dapat berupa opini meskipun didukung keahlian dan fakta.
Bisakah satu kalimat berisi fakta dan opini sekaligus?
Bisa. Satu bagian kalimat dapat memuat klaim yang dapat diverifikasi, sementara bagian lainnya mengandung pendapat atau penilaian.
Bagaimana cara paling sederhana mengenali fakta?
Tanyakan apakah pernyataan tersebut dapat diperiksa menggunakan bukti, data, dokumen, kejadian, atau sumber informasi yang relevan.
Referensi
Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen. “TKA Bahasa Indonesia SMP.” Pusat Asesmen Pendidikan.
Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen. “TKA Bahasa Indonesia SMA.” Pusat Asesmen Pendidikan.
Dewan Pers. Kode Etik Jurnalistik dan Penafsirannya. Dewan Pers.
“Kemampuan Mengidentifikasi Fakta dan Opini dalam Teks Surat Kabar melalui Kegiatan Membaca Intensif Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Kota Ternate.” GARUDA Kemendikbud.






