Kesalahan Menyiapkan Biaya Pendidikan Anak yang Sering Terjadi

Irwin Andriyanto

0 Comment

Link
Cara menyiapkan dana pendidikan anak sejak dini, Kesalahan menyiapkan biaya pendidikan anak

Menyiapkan biaya pendidikan anak tidak bisa hanya mengandalkan niat baik. Banyak orang tua merasa sudah aman karena rutin menabung, tetapi baru terkejut saat melihat uang pangkal, SPP, seragam, buku, dan biaya kegiatan sekolah yang terus naik.

Kesalahan yang paling sering terjadi biasanya berulang: mulai terlalu terlambat, tidak menghitung inflasi sekolah, hanya mengandalkan tabungan biasa, dan belum punya rencana jangka panjang. Jika dibiarkan, dana yang terasa cukup hari ini bisa jauh dari kebutuhan sebenarnya saat anak mulai masuk sekolah.

Kesalahan menyiapkan biaya pendidikan anak
Kesalahan menyiapkan biaya pendidikan anak

1. Mulai Menyiapkan Dana Terlalu Terlambat

Banyak orang tua baru serius menyiapkan dana pendidikan saat anak sudah mendekati usia sekolah. Padahal, semakin lama ditunda, semakin besar nominal bulanan yang harus dikejar.

Misalnya uang pangkal sekolah saat ini Rp30 juta dan naik 10% per tahun. Dalam 5 tahun, kebutuhan dana bisa menjadi sekitar Rp48,3 juta. Jika mulai dari sekarang, orang tua perlu menyisihkan sekitar Rp805 ribu per bulan selama 60 bulan, tanpa memperhitungkan imbal hasil investasi.

Namun, jika persiapan ditunda 2 tahun dan waktu yang tersisa tinggal 3 tahun, setoran yang dibutuhkan naik menjadi sekitar Rp1,34 juta per bulan. Targetnya sama, tetapi tekanannya jauh berbeda.

Langkah paling praktis adalah mulai menghitung dari sekarang. Tulis usia anak, tentukan target jenjang sekolah, cari estimasi biaya sekolah yang dituju, lalu hitung mundur berapa bulan waktu yang tersedia.

Idealnya, dana pendidikan mulai disiapkan sejak anak direncanakan, masih dalam kandungan, atau baru lahir. Namun, jika baru mulai sekarang, bukan berarti terlambat total. Yang penting, jangan menunda lagi setelah tahu angka kebutuhannya.

2. Tidak Menghitung Dampak Inflasi Sekolah

Kesalahan fatal berikutnya adalah menghitung biaya sekolah berdasarkan harga saat ini. Padahal, biaya pendidikan anak harus dihitung berdasarkan nilai masa depan.

Dilansir dari BPJS Ketenagakerjaan, biaya pendidikan anak mengalami kenaikan sekitar 10%–15% per tahun berdasarkan data OJK. BPJS juga menjelaskan bahwa biaya pendidikan tidak hanya mencakup uang pangkal, tetapi juga SPP, seragam, buku pelajaran, dan ekstrakurikuler.

Contoh simulasi sederhana:

  • Uang pangkal sekolah saat ini: Rp30.000.000
  • Asumsi kenaikan biaya pendidikan: 10% per tahun
  • Jangka waktu persiapan: 5 tahun
  • Rumus: Rp30.000.000 x (1 + 10%)⁵
  • Estimasi dana yang dibutuhkan: sekitar Rp48.315.000

Artinya, orang tua tidak cukup menyiapkan Rp30 juta jika anak baru akan masuk sekolah 5 tahun lagi. Target dana perlu dinaikkan menjadi hampir Rp50 juta. Jika kenaikan biaya mendekati 15% per tahun, kebutuhan bisa lebih besar lagi.

Dikutip dari BPJS Ketenagakerjaan, uang pangkal sekolah swasta juga bisa mencapai puluhan juta rupiah. Untuk jenjang SD swasta, kisarannya sekitar Rp11 juta–Rp30 juta. Untuk SMP swasta sekitar Rp16 juta–Rp34 juta, sedangkan SMA swasta berada di kisaran Rp12 juta–Rp34 juta.

Agar tidak meleset, orang tua sebaiknya memilih 2–3 sekolah target sebagai pembanding. Catat uang pangkal, SPP, seragam, buku, dan biaya kegiatan. Setelah itu, gunakan asumsi kenaikan minimal 10% per tahun sebagai dasar perhitungan.

3. Hanya Mengandalkan Tabungan Biasa

Menabung tetap penting, tetapi tabungan biasa bukan tempat utama untuk dana pendidikan jangka panjang. Masalahnya, pertumbuhan bunga tabungan sering kali tidak sebanding dengan kenaikan biaya sekolah.

Dikutip dari Majalah Edukasi Konsumen OJK Juni 2024, suku bunga tabungan pendidikan berada di kisaran 2%–4%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan biaya pendidikan yang disebut bisa mencapai 10%–15% per tahun.

Di sinilah banyak orang tua keliru. Saldo tabungan memang terlihat bertambah, tetapi daya belinya bisa turun. Saat waktunya dipakai, dana yang terkumpul belum tentu cukup untuk membayar biaya sekolah yang sudah naik.

Tabungan biasa lebih cocok untuk kebutuhan jangka pendek, seperti dana darurat, biaya sekolah yang jatuh temponya sudah dekat, atau kebutuhan bulanan keluarga. Untuk dana pendidikan yang baru dipakai beberapa tahun lagi, orang tua perlu mempertimbangkan instrumen lain sesuai profil risiko dan jangka waktu.

Langkah awalnya sederhana. Pisahkan rekening harian dan rekening pendidikan. Gunakan tabungan untuk kebutuhan yang waktunya dekat, lalu pelajari instrumen investasi secara bertahap untuk tujuan jangka menengah dan panjang.

4. Belum Punya Strategi dan Rencana Jangka Panjang

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mencampur dana pendidikan dengan rekening rumah tangga. Awalnya hanya “dipinjam sebentar” untuk kebutuhan lain. Lama-lama, target pendidikan anak menjadi tidak jelas.

Dana pendidikan sebaiknya tidak dihitung sebagai satu angka besar saja. Pecah targetnya berdasarkan jenjang: TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Setiap jenjang punya waktu dan kebutuhan yang berbeda.

Menurut OJK dalam Majalah Edukasi Konsumen Juni 2024, pemilihan investasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan target waktu. Untuk jangka 1–3 tahun, portofolio dapat didominasi reksa dana pasar uang. Untuk 3–5 tahun, orang tua bisa mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana campuran, atau kombinasi lain sesuai profil risiko. Untuk target di atas 5 tahun, porsi reksa dana saham bisa lebih besar, tetapi tetap perlu diversifikasi karena risikonya lebih tinggi.

Horizon WaktuTujuan Dana PendidikanInstrumen yang Bisa Dipertimbangkan
1–3 tahunBiaya sekolah yang sudah dekatReksa dana pasar uang atau instrumen rendah risiko
3–5 tahunPersiapan jenjang berikutnyaReksa dana pendapatan tetap, pasar uang, campuran, atau kombinasi sesuai profil risiko
Di atas 5 tahunDana kuliah atau target jangka panjangReksa dana saham dengan diversifikasi ke instrumen lain

Dengan membagi dana berdasarkan waktu pemakaian, orang tua tidak perlu menaruh semua uang di satu tempat. Dana yang akan dipakai dalam waktu dekat sebaiknya dibuat aman dan mudah dicairkan. Dana yang masih dibutuhkan beberapa tahun lagi bisa diberi ruang untuk tumbuh lewat instrumen yang sesuai.

Sebagai bacaan lanjutan, orang tua dapat mempelajari opsi pengelolaan reksa dana dan investasi anak melalui SimobiPlus. Panduan seperti ini bisa membantu memahami bagaimana investasi dapat digunakan untuk tujuan pendidikan jangka panjang.

Kesimpulan

Menyiapkan biaya pendidikan anak perlu strategi yang jelas. Orang tua perlu tahu kapan dana dibutuhkan, berapa estimasi kenaikannya, dan instrumen apa yang paling sesuai untuk tiap jangka waktu.

Kesalahan masih bisa diperbaiki jika tidak terus ditunda. Mulai dari langkah sederhana: cek biaya sekolah yang dituju, hitung kenaikannya, pisahkan dana dari rekening harian, lalu evaluasi secara berkala.

FAQ Seputar Persiapan Biaya Pendidikan Anak

Kapan waktu paling ideal untuk mulai menabung biaya pendidikan?

Waktu terbaik adalah sekarang. Idealnya, dana pendidikan mulai disiapkan sejak anak direncanakan, masih dalam kandungan, atau baru lahir.

Menunda 1–2 tahun bisa membuat nominal bulanan yang harus disisihkan menjadi lebih besar. Semakin cepat dimulai, semakin ringan beban keuangan keluarga.

Apakah asuransi pendidikan lebih menguntungkan daripada reksa dana?

Keduanya punya fungsi berbeda. Menurut OJK, asuransi pendidikan memberikan proteksi atas pendidikan anak dan umumnya merupakan gabungan asuransi jiwa berjangka dengan tabungan.

Sementara itu, reksa dana lebih fokus pada pengembangan dana melalui investasi. Dalam praktiknya, orang tua bisa memadukan proteksi dan investasi, bukan memilih salah satu secara membabi buta.

Berapa persen dari penghasilan yang harus disisihkan untuk pendidikan anak?

Tidak ada angka pasti karena kondisi setiap keluarga berbeda. Target sekolah, usia anak, jumlah anak, dan penghasilan bulanan sangat memengaruhi nominal yang perlu disiapkan.

Sebagai titik awal, keluarga bisa mencoba menyisihkan sekitar 10%–15% dari penghasilan bulanan, lalu menyesuaikannya dengan hasil simulasi kebutuhan pendidikan. Jika waktu persiapan pendek atau target sekolah cukup tinggi, alokasinya mungkin perlu lebih besar.

Referensi

BPJS Ketenagakerjaan. “Begini Cara Hitung Dana Pendidikan Anak. Orang Tua Wajib Tahu!” BPJS Ketenagakerjaan, 29 Nov. 2023, https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/artikel/17745/artikel-begini-cara-hitung-dana-pendidikan-anak.-orang-tua-wajib-tahu%21.bpjs.

Otoritas Jasa Keuangan. “Memanfaatkan Produk Investasi untuk Dana Pendidikan.” Majalah Edukasi Konsumen, Juni 2024, https://www.ojk.go.id/id/Publikasi/E-Magazine/Documents/Majalah%20Edukasi%20Konsumen%20Triwulan%20II%202024.pdf.

Share:

Related Post